Minggu, 09 Januari 2011

beginning of the story

 A BIG KID and a girl with her words whose kicked kid out!


_King_

Lo tahu hal apa yang paling menjijikan, yang bikin banyak orang ngejauhin lo dan membuat mereka bersumpah untuk melupakan nama lo sepanjang hidupnya. Jawabannya bukan kotoran yang lo hasilkan setiap pagi di atas closet. Masih ada yang lebih menjijikan dari pada benda semi padat yang lo kenal dengan sebutan tai. Kalo lo berusaha buat nyari jawabannya, lo gak akan pernah dapet. Sampai lo memutuskan untuk gak lagi mengungkapkan cinta.
Kisahnya mungkin bisa lo temukan di pinggiran jalan. Lo kenal dengan seorang perempuan yang...
Gak penting seberapa seringnya lo minum susu olahan setiap pagi. Gosipnya, itu bisa bikin lo tambah tinggi dan bisa menggapai telinga lo dengan lengan yang semakin memanjang. Dengan susu, lo pikir bisa membuat diri lo tambah dewasa dan bisa mengalahkan banyak kritikan dari berbagai orang yang membenci lo atau beberapa orang yang berpura-pura senang bergaul dengan manusia seperti lo.
Yah. Hari itu, entah pukul berapa tepatnya karena lo gak pernah sama sekali memperhatikan jam saat sedang bertemu dengan seseorang. Pertama kali yang lo harus lakukan adalah menjabat tangannya dan saling memperkenalkan nama, itu kan yang biasa manusia lakukan saat belum saling mengenal.
Awalnya, karena lo bukan seorang selebritis kelas tinggi dan mudah digemari. Maka, beberapa menit setelah perkenalan, gak ada sesuatu yang layak dibicarakan, atau lo emang gak pandai untuk memulai sebuah percakapan dengan seorang perempuan. Mungkin, itu bukan masalah besar, karena lo masih bisa membuka obrolan dengan binatang peliharaan lo yang terbuat dari plastik. Yang lo beri nama greeni. Yang lo anggap, mainan plastik itu bisa memberi lo sedikit pencerahan.
Dengan sekuat tenaga. Bukan! Bukan dengan tenaga.
Dengan sadar, karena lo adalah seorang lelaki dan masyarakat dunia pada umumnya sering mengungkapkan bahwa bukan lelaki jika lo bersikap memalukan di hadapan lawan jenis. Maka, lo berusaha bagaimana diri lo bisa menyesuaikan diri saat bertemu dengan seorang perempuan. Dan berusaha membuat diri lo gak seperti patung rusak yang gak bisa berbicara sama sekali...
Lo berharap. Berharap apa aja.
Pertemuan itu berakhir karena lo emang harus pulang.
Di rumah. Untuk beberapa hari, di setiap pagi saat lo bangun dengan mata yang masih enggan untuk membuka dengan diameter yang lebih besar, seperti saat berdiam diri di dalam sebuah ruang gelap karen pupil yang akan membesar secara normal. Lo ingin tahu kabarnya, apa yang dia lakukan, atau apa saja tentangnya yang ingin lo tanyakan. Apapun itu, lo menanyakannya. Dengan aneh, sedikit kasar, ada rasa kaget, diam, lo membaca beberapa pesan yang lo dapatkan saat ia membalasnya.
Begitulah lo menjalani hari-hari, ada sesuatu yang lo tambahkan ke dalam rutinitas lo karena memutuskan untuk apa? Untuk tahu apakah ia...
Jika dalam satu hari masih bisa diukur oleh waktu 24 jam. Dan lo meyakini bahwa jam dinding itu memang terus bergerak. Maka, bumi akan terus berputar mengelilingi matahari dan itu membuat diri lo sadar bahwa untuk hari-hari selanjutnya, lo bangun dengan rasa yang berbeda. Lo semakin addicted dengan kabar dan kegiatannya. Tapi, lo memutuskan berhenti sejenak untuk bertanya. Berhenti sejenak karena lo pikir, ia akan mulai bosan dan jengah dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh lo.
Lo berhenti di hari itu.
Bukan untuk berlari tapi untuk memastikan diri lo apa ia memiliki rasa yang sama?!
Cukup lama lo gak tahu kabarnya. Dan tentu saja lo gak akan pernah tahu keadaannya. Maka, dengan memberanikan diri lagi, lo memulai lagi, bertanya lagi, dan membaca pesan yang ia kirimkan lagi di layar kecil itu.

Kemudian. Malam itu lo bertemu dengan perempuan itu lagi. Lo gak berdua di malam itu. Sekitar delapan orang. Yah, sepertinya delapan orang duduk melingkari meja yang kenapa berbentuk lingkaran.
Hal apa yang bisa lo ungkapkan saat malam itu selain menikmati martabak dengan warna hitam di bagian bawahnya akibat keenggakprofesionalan tukangnya?! Hal apa yang bisa lo rasakan selain merasakan dinginnya kaki lo karena telah berani-beraninya memakai celana pendek butut dengan tempat ikat pinggang yang semuanya hampir putus?? Hal apa yang bisa lo katakan selain itu. Suara tawanya? Jarak duduknya yang terlalu jauh? Atau ada hal lain yang lebih krusial? Apa?
Lo gak bisa mengatakan satu hal pun? Atau lo hanya orang yang gak tau bagaimana caranya mengungkapkan sesuatu. Idiot. Hey lihat, ini hampir mendekati tengah malam. Dan lo akan mengantarnya pulang.
Jangan ceritakan seberapa banyaknya lo menghisap nikotin di setiap batang rokok. Jangan ceritakan bagaimana lo membuka tutup tangki bensin saat lo membuatnya terbuka dan meminta petugas SPBU untuk mengisikan bahan bakar ke dalamnya. Semua orang tahu bagaimana melakukan hal itu.
Di perjalanan, lo mendengarkan perempuan itu. Bercerita ini dan itu. Lo mendengarkan. Lo bisa mendengar suaranya dengan jelas.
Dan lo sampai di rumah teman perempuan itu. Menginap? Iyah, perempuan itu menginap di rumah temannya. Tapi lo belum pulang. Lo duduk di depan rumah itu. Membicarakan apa saja yang jika sampai terdengar oleh Yang Terhormat Bapak Presiden, lo yakin Bapak Presiden gak akan ingin ikut terlibat di dalamnya. Karena, pemimpin itu tahu, percakapan lo gak bisa bikin bangsa ini menjadi lebih baik. Tapi, lo tahu semua itu lebih berharga dari pada apa pun.
Untuk beberapa lama lo masih bersikap normal seperti manusia lainnya. Ketika menit terus beranjak dari tempatnya, kenormalan lo berubah. Lo meyakini, manusia bisa menjadi sangat idiot saat ingin mengatakan suatu hal yang mereka takutkan akan hasil akhirnya. Dan itu, malam itu, terjadi pada diri lo.
Lo mendekatinya. Lebih tepatnya, sepertinya lo memaksanya untuk lebih dekat. Bagaimanapun keadaannya, lo berada di sampingnya. Saat ini. Itu berarti, dia berada tepat di samping lo. Dan lo...
            “Gue suka lo...” saat lo mengatakan ini, lo terdiam beberapa saat sambil menggigit lidah atau bermuka kecut karena telah berani-beraninya berkata seperti itu, “Lo mau jadi pacar gue?” akhirnya, kalimat lo selesai.
            “Kita belom lama kenal!!!” jawabnya.
Eu! Lo bisa memproyeksikan dialog-dialog bersejarah ini dalam sebuah narasi. Itu lebih mudah untuk menenangkan diri lo karena mendengar kalimat ini.
Well. Kalian gak perlu mengunjungi sebuah opera atau pentas seni di berbagai theater hanya untuk melihat ekspresi lelaki ini. Kalian cukup membayangkannya saja. Lelaki bercelana pendek yang berani-beraninya mengatakan cinta dan mendapatkan jawaban yang seperti itu. Bayangkan saja jika ada satu juta lebih mimik wajah yang dimiliki manusia di dunia ini, ekspresi mana yang sedang dipakai oleh lelaki itu saat ini.
Yah, wajahnya kecut.
Sepertinya kecut.
Tapi lelaki itu mencoba tersenyum.
Bagaimana dengan perempuannya?
Perempuan itu memaparkan beberapa hal yang membuat lo gak bisa berhenti berdecak kagum dengan apa yang sedang ia utarakan. Sadarkah lo bahwa baru kali ini bertemu dengan perempuan yang memiliki tema berbeda? Gaya bicara yang berbeda. Atau lo hanya sedang berlebihan mengungkapkan suatu gambaran tentang perempuan itu. Dengan pasti, lo tahu bahwa ada esensi tingkat tinggi yang sangat berani di dalam diri perempuan itu. Yang membuat lo gak bisa berhenti memalingkan wajah darinya, yang membuat lo seperti merasa bahwa sebenarnya, selama ini lo hanya sedang tertidur dan baru bangun saat mendengar banyak hal darinya.
Lo seperti sedang dimasukkan ke dalam sebuah lubang kecil yang gak bisa memuat ukuran tubuh lo. Tapi, lo masuk, masuk dengan segera ke dalam sebuah lubang kecil, dan di dalamnya lo terhimpit, mengaduh, dan lo seakan ingin tahu apa yang diinginkan sesuatu yang memasukkan diri lo ke lubang itu. Lo tahu seberapa besar ukuran lubang semut yang ada di atas tanah? Dan pada suatu kondisi tertentu, ada seseorang yang entah kenapa dimasukkan ke dalam lubang itu oleh sesuatu, hanya karena sesuatu itu tahu bahwa lubang semut yang ini memiliki banyak hal yang gak dimiliki oleh lubang semut lainnya. Kecil. Sangat kecil. Kecil sekali.

Akhirnya lo harus pulang juga. Karena lo gak boleh membiarkan mata perempuan itu terus terbuka. Lo menyalakan mesin motor, lalu melirik ke arah perempuan itu hanya untuk memastikan apakah ia masih berdiri di tempatnya. Lo tersenyum, sepertinya lo sedang tersenyum, senyuman yang keluar dengan usaha keras di samping lo akan membawa pulang jawaban perempuan itu.
Lo pulang. Dan bersyukurlah karena celana pendek dan sendal jepit berwarna cokelat kusam itu masih mengerti apa yang lo rasakan.
Di rumah. Tepatnya lo berada di dalam kamar dengan cat yang berwarna merah dengan aksen gak jelas akibat ulah tangan sendiri di dindingnya. Lo memeluk bantal, lalu menatap binatang plastik yang bernama Greeni.
Seperti idiot. Lo berusaha menceritakan semuanya di dalam kamar kepada seorang teman yang kebetulan menginap di rumah, sedangkan, tangan lo dengan kuat menggenggam Greeni.
Cukup lama lo mengatakan hal yang bisa dikatakan terhadap teman itu. Hingga akhirnya lampu kamar mati. Dan lo tertidur dengan sangat sengaja.
Paginya, saat lo bangun, lo sadar, lo memiliki hobi baru. Hobi yang mungkin gak terlalu penting untuk diumumkan di layar tv. Hobi itu, membuat lo tahu seberapa besar rasa lo terhadap perempuan itu. Dan seberapa seriuskah lo inginnya. Apa yang lo lakukan?
Lo pergi ke dapur kemudian membuat kopi dan membawanya kembali ke dalam kamar. Lalu duduk di hadapan segelas kopi itu. Ini hanya kopi. jika kedudukan kopi lebih tinggi dari pada susu, itu pun gak bisa menggambarkan bagaimana tingkat kedewasaan otak lo untuk menerima apa yang lo dengar dan lo pikirkan. Lo bisa jadi tambah dewasa dengan apa yang lo hadapi. Tapi, tahukah bahwa seenggaknya lo bukanlah benda semi padat yang menjijikan. Dan lo... adalah...
Dan perempuan itu. Adalah perempuan yang...
BERSAMBUNG.

 _Queen_

May be sambungan ceritanya agak terpotong. Karena gw butuh waktu untuk ngelanjutin semuanya, melanjutkan semua cerita tentang perasaan seseorang yang udah bener-bener tulus sayang sama gw.
Gw adalah sosok wanita pada umumnya. Ada beberapa hal yang ngebuat gw bener-bener bingung apa yang sebenernya gw rasain. Bingung apa yang sebenernya yang harus gw lakuin, bingung masih mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan.
            Trowma. Yaaah. Gw trowma akan masa lalu. Gw takut deket sama cowo lah, gw takut buat punya hubungan dengan seseorang lah. Gw sempet menganggap semua cowo di dunia BRENGSEK ! B E R E N G S E K !!! .  Walaupun sebenernya gw suka sama seorang pria yang bener-bener bisa ngebuat gw kagum akan semua kepribadian nya. 4 tahun gw memendam perasaan kagum sama orang tersebut, 4 tahun pula gw menahan rasa sakit yang begitu besar. Why? Karena gw bukan seorang cewe yang bisa menunjukan perasaan gw sama orang yang bener-bener gw suka. Seorang cowo yang cuek, smart, simple, apa adanya, sholeh yaah.. itu yang gw liat dari cowo tersebut. Sifat cuek nya tersebut yang ngebuat gw bener-bener takut untuk ngedeketin dia. Gw takut kalo dia tau apa yang sebenernya gw rasain dia malah milih jauh dari gw. Gw selalu mengganggap dia TEMEN ( Itu kalo di depan dia ) dan gw selalu menganggap dia SOMEONE ( Itu kalo dibelakang dia ). Gw selalu berusaha untuk ngelupain dia. Berusaha agar perasaan gw bener-bener bisa hilang dalam waktu sekejap. Ternyata susah, susah banget. Dan akhirnya perasaan gw, gw biarin mengalir apa ada nya. Ga pernah menutup perasaan ke orang lain dan membuka hati buat cowo yang siapa tau aja datang dan untuk bener-bener serius sama gw.
            Gw ga pernah terlewat untuk membuka fb cowo itu ketika gw ga sengaja untuk online. Gw selalu melihat semua album foto nya, menatap wajah nya dan berharap suatu saat dia akan mempunyai perasaan yang sama, sama apa yang gw rasain sama dia. Dan sekarang gw sadar kalo gw bener-bener ga pernah untuk melakukan hal itu lagi. Membuka fb nya, menatap foto nya yang penuh dengan harapan, semua itu ga pernah gw lakuin setelah gw ngebiarin perasaan gw mengalir apa adanya dan mencoba membuka hati untuk seseorang yang bener-bener sayang sama gw.
            Gw emang seorang cewe yang ga pernah lepas dari benda kesayangan gw HANDPHONE. Gw masih menyimpan foto sosok cowo tersebut dalam benda kesayangan gw. Sesekali gw suka memajang foto nya untuk dijadikan pp dalam handphone. Itu gw lakuin karena gw sendiri mau tau sejauh apa perasaan gw terhadap dia sekarang. Apakah masih sesuka dulu? Atau gw udah bener-bener bisa lupain dia.
            Suatu hari gw, temen-temen gw dan seorang cowo yang bener-bener tulus sayang sama gw pergi untuk melakukan kegiatan yang gw rasa bener-bener penting. Menunggu di sebuah halte selama kurang lebih setengah jam tetapi cowo tersebut tak kunjung datang dan teman-teman nya pun tak kunjung tiba. Ketika gw dan temen-temen gw menunggu dengan perasaan cemas, one call for ( sebut saja Big Kid ). Suara seseorang yang gw denger untuk menanyakan ‘lo lagi dimana ya?’ . Ketika gw udah naik kedalam bis, gw melihat big kid berdiri dengan memakai baju berwarna merah. Pada saat itu gw duduk bersama sepupu gw yang jelas-jelas dia ga mau duduk dengan teman nya cowo yang memakai baju merah itu. Gw selalu menatap layar handphone yang terpajang foto seorang cowo yang dulu sempat ada dihati gw. Gw selalu bertanya-tanya dalam hati. Seberapa besar sayang gw sekarang dengan cowo yang dulu pernah gw suka? Apakah perasaan gw masih sama? Apakah gw yakin masih ingin bertahan untuk berharap dengan dia?. Bimbang, itu yang gw rasain saat itu.
            Tiba di rumah nenek dan bercanda dengan teman-teman gw itu yang gw lakukan bersama teman-temang gw saat sudah tiba di rumah nene, termasuk berbincang dan bercanda dengan …. ( Big Kids ) . Kenapa dia cuek banget? Kenapa dia ga perhatian sama gw? Lemes, gw ngerasa lemes banget karena gw menahan rasa sakit yang tiba-tiba gw rasain karena perut gw yang bener-bener ga bersahabat, termasuk lemes ngeliat ( Big Kids ) seperti itu. Cuek dan bertanya-tanya, ga enak rasanya. Sumpah ga enak banget.
            Setelah berjalan beberapa jam, gw dan temen-temen gw pergi ke kamar gw yang tadi nya niat untuk tidur tapi karena mata yang ga bisa dipejamkan dan perasaan gw yang ga karuan. Akhirnya gw bercerita tentang semua apa yang gw rasain terhadap Big Kid. Dan sahabat gw dan sepupu gw yang sedang mendengarkan keluh kesah gw, tiba-tiba mereka memberitahu dan menyadarkan gw kalo gw bener-bener punya perasaan terhadap BIG KIDS. Temen dan sepupu gw pun langsung memberi gw pilihan. Sebuah pertanyaan yang bener-bener ngebuat gw udah bener-bener sadar. “ Kalau lo masih suka sama cowo yang udah lama lo suka, lo simpen foto dia dan jangan pernah lo hapus, kalo lo beneran suka sama BIG KIDS, lo hapus semua foto yang ada di handphone lo dan jangan pernah trowma akan masa lalu” . Akhirnya gw menentukan semuanya. Semua yang gw rasain karena sebelumnya gw belum sadar akan perasaan gw sebenernya. Sejujurnya gw MUNA ketika teman gw menanyakan kepada gw “Apa lo sayang sama Big Kids?”. Gw diam sejenak. Awalnya gw menjawab “IYA SEDIKIT” tetapi akhirnya gw jujur apa adanya “Gw suka sama Big Kids dan ternyata gw merasakan hal yang sama dengan dia”. Dan mulai sekarang gw memutuskan menetapkan hati gw buat dia. Gw berharap perasaan dia ga pernah berubah sampai kapan pun, sama seperti waktu dia mengucapkan “GW SUKA SAMA LO!!!”. Dan gw mau mendengar satu kalimat yang sama sekali lagi..


_King_
Dia adalah seribu rasa.
Tahu apa yang lo suka dari perempuan itu?
Dia adalah perempuan yang bikin lo gak betah berlama-lama duduk diam sambil menonton televisi. Dia adalah perempuan yang bikin lo menghabiskan banyak kertas untuk hanya membuat gambar berantakkan yang hanya lo aja yang tahu apa maksudnya. Dia adalah perempuan yang bikin lo sadar, bahwa gak ada satu lagu sedihpun yang bisa mengobati kegalauan.
Sebenarnya, gak penting berapa banyak hari yang lo harus habiskan untuk tahu bagaimana seseorang yang lo suka. Tapi, lo hanya perlu otak jernih untuk tahu kenapa dia begini, atau kenapa dia…
Lo pernah membuat gambar di dekat perempuan itu. Gambar yang jelek. Lo menggambar suasana yang penuh sesak dengan manusia. Di antara banyak manusia itu, lo menggambar diri lo sendiri dengan coretan pensil yang lebih tegas di antara manusia lainnya, dan lo menggambarkan perempuan itu berada di dalam sebuah rumah. Di gambar itu seperti lo ingin bilang, ingin mengartikan bahwa, mungkin banyak lelaki yang dia suka. Tapi lo tahu, dengan kekurangan diri lo yang gak terhitung jumlahnya, lo ingin ada. Lo ingin…
Iyah, seperti itu.
Lalu, untuk apa gunanya cerita panjang lebar terhadap teman, sodara, atau siapapun yang lo jumpai dan lo ingin menceritakan kisah ini. Untuk apa gunanya nasehat mereka, jika lo hanya berhenti sampai di sini.
Ketika lo ngerasa galau. Lo seperti mati. Mati dan susah untuk hidup kembali. Tapi, lo tetap berusaha mencari apa saja yang bisa membuat lo hidup lagi. Apapun itu. Hanya untuk…
Dan, apa yang lo cari selain perempuan yang lo kagumi sejak awal? Apa yang lo cari selain statement dasar yang dalam. Apa yang lo cari? Apa?
Malam itu adalah malam yang membuat lo harus menghadapi percakapan dengan sodara lo jauh di sana. Sodara yang tahu bagaimana rasa suka lo timbul terhadap perempuan ini.
“Hey Yan, gw galau!”
“Kenapa?”
“Kayaknya besok gw mau pulang aja.”
“Perempuan yang lo suka gimana?”
dialognya gak akan pernah gw tulis sampai habis. Tapi, ada kehidupan lagi ketika dia ingin menutup pembicaraan, membuat gw bertahan… membuat gw sadar.
“Kalo lo percaya dia baik buat lo. Dan lo mau ngejalanin ini bener-bener. Besok. Jangan pulang.”
lalu, seperti yang lo tahu. Untuk apa lo menceritakan apa yang ingin lo ceritakan, jika nasehat yang lo dengar dari mereka gak membantu lo untuk bertahan. Untuk percaya bahwa, dia juga…, memiliki rasa seperti yang lo rasa.

Lo mendengarkan nasehat itu dan… yah. Lo akan mengatakan itu sekali lagi. Bahkan lo akan mengatakannya lebih dari sekali dalam sehari jika diijinkan. LOVE YOU TYA.
anggi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar